• Tentang Kami
  • Visi & Misi
  • Tanya Ustadz
    • Form Pertanyaan
  • Hubungi Kami
  • Kajian Bandung
  • Buletin Annajiyah
  • Pena Santri
Home Buletin Annajiyah Merayakan Hari Raya ‘Idul Adh-ha dan Hari-Hari Tasyriq

Merayakan Hari Raya ‘Idul Adh-ha dan Hari-Hari Tasyriq

PostDateIconThursday, 03 December 2009 15:23 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF Print E-mail

Merayakan Hari Raya ‘Idul Adh-ha dan Hari-Hari Tasyriq

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjalin persaudaraan seluruh kaum muslimin dengan keimanan dan ibadah yang sama. Dengannya kaum muslimin bersaudara. Allah Ta’ala namai mereka dengan nama yang sama, kaum muslimin.

Tidak memisahkan mereka perbedaan suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, usia, status sosial, kaya-miskin, yang lemah dan kuat. Di antara lem perekat persaudaraan mereka yang terkuat adalah saling menolong, saling membahu dalam kebaikan dan takwa.

Bersama-sama beribadah yang sama dan merayakan hari raya yang sama. Semua menyatukan kaum muslimin dalam persaudaraan yang hakiki dan suci.

Kaum muslimin, semoga Allah Ta’ala merahmati saya dan Anda sekalian!

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah melarang dua anak perempuan yang sedang berdendang di rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya:

“Biarkan saja wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Disebut ‘id karena dikerjakan berulang-ulang dan rutin, sebagai wujud syukur atas nikmat yang Allah Ta’ala limpahkan kepada mereka, berupa ibadah, syi’ar-syi’ar dan atas karunia-Nya berupa kebaikan-kebaikan dan kesenangan-kesenangan di hari raya tersebut, serta selesainya ibadah haji dan penyembelihan binatang qurban.

Setiap umat memiliki hari raya yang mereka rayakan secara berulang-ulang dan terus-menerus berkaitan dengan kejadian-kejadian yang menurut mereka besar dan penting, sebagai peringatan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Mereka merayakannya dengan bersenang-senang dan bersuka cita.

Adapun kaum muslimin, pada perayaan hari raya ‘idul fithri dan ‘idul adh-ha, mereka merayakannya tidak sekedar sebagai tradisi atau sekedar ibadah saja, tetapi Allah Ta’ala memberikan karunia kepada mereka berupa hari raya sebagai hari ibadah, sekaligus sebagai tradisi yang baik dan perwujudan rasa syukur serta bersenang-senang, jadi mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, kaum muslimin memperoleh kelonggaran bahkan disyariatkan untuk bermain dengan permainan-permainan yang tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Untuk menampakkan kegembiraan di hari raya karena merupakan bagian dari syi’ar-syi’ar Islam yang agung.

Hari raya kaum muslimin adalah hari raya terbaik dibandingkan dengan hari raya agama lain.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, sementara masyarakat Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bersenang-senang atau bermain-main di hari tersebut. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main di dua hari ini di masa jahiliyyah”, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengganti dua hari raya (mereka) dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu hari raya ‘idul adh-ha dan hari raya ‘idul fithri.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membenarkan kaum muslimin ikut-ikutan merayakan hari raya umat lain dan tidak membolehkan bermain-main atau bersenang-senang di hari tersebut. Artinya, kaum muslimin harus meninggalkannya dan hanya merayakan hari raya yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kita semua. Tidak boleh merayakan yang telah diganti dan yang menggantikannya sekaligus.

Adapun hari-hari tasyriq, adalah tiga hari setelah hari raya ‘idul adh-ha, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) nama Allah dalam beberapa hari yang berbilang ...” (QS. Al Baqarah: 203)

Allah Ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya yang menunaikan haji untuk berdzikir pada hari-hari tasyriq ketika melempar jumrah dan setelah shalat lima waktu. Yang redaksinya sering kita dengar dari masjid-masjid di malam takbiran sampai waktu Ashar di hari-hari tasyriq yang ke tiga, tanggal 13 bulan Dzulhijjah.

 

Berdzikir di hari-hari tasyriq memiliki keutamaan tersendiri tidak seperti berdzikir di hari-hari biasa, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Ahmad bersabda:

“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah.”

Dan Muslim meriwayatkan juga dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari-hari tasyriq) karena hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah.”

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menerima semua amal ibadah kita di sepuluh hari bulan Dzulhijjah dan di hari-hari tasyriq ini. Dan mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan amal kita ini ikhlas karena-Nya serta menjadi tambahan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak. Amin!

Al Ustadz Yahya Abdul Aziz

Sumber rujukan:

1. Aisarut Tafasir karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iry

2. Iqtidha Shirathil Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Berkumpulnya Hari Raya dan Hari Jum’at dalam Satu Hari

Jika hari raya dan hari Jum’at berbarengan dalam satu hari, maka gugurlah kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang melaksanakan shalat ‘id, namun imam hendaklah tetap mengerjakan shalat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum shalat ‘id.

Menurut pendapat yang benar, tetap diwajibkan melaksanakan shalat Zhuhur bagi orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at karena telah melaksanakan shalat ‘id.

Namun yang utama dalam hal ini adalah melaksanakan shalat Jum’at untuk mendapatkan keutamaan dan mendapatkan pahala dua shalat tersebut (shalat ‘id dan shalat Jum’at). Wallahu a’lam.

Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauzy Rahimahullah mengatakan: “Diperbolehkan bagi mereka, jika hari raya jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan shalat ‘id dari menghadiri shalat Jum’at.” (Zadul Ma’ad: I/ 448)

 

(Dinukil dari buku Lebaran Menurut Sunnah yang Shahih karya Dr. ‘Abdullah Bin Muhammad Bin Ahmad Ath Thayyar)

Dinukil dari Buletin Annajiyah Edisi 04 Bulan Dzulhijjah Tahun I 1430 H

Last Updated (Thursday, 03 December 2009 15:28)

 
Main Menu
  • Home
  • Visi & Misi
  • Donasi Dakwah
  • Sejarah Ma'had
  • Artikel
  • Info
  • Forum
  • Hubungi Kami
  • Buku Tamu
Program Pendidikan
  • Madrasah Ibtidaiyah (MI plus)
  • Raudhatul Athfal (RA)
  • MTs Boarding School
Kelembagaan
  • Divisi Pendidikan
  • Divisi Sosial & Dakwah
  • Divisi Usaha
  • Radio Annajiyah FM
Media Dakwah
  • Kumpulan Kajian
  • Download Kajian
Radio Sunnah

Player terpisah

Kajian Bandung
July 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
Kajian Berikutnya

30.07.2010 16:30 - 18:00
Kajian Aqidah Kitab Syarh Tsalatsatul Ushul

30.07.2010 19:30 - 21:00
Kajian umum Kitab Alfiyah Imam Malik

30.07.2010 20:00 - 21:00
Kajian Umum Kitab Mutiara Faidah Kitabut Tauhid ( pekan kedua dan keempat )

30.07.2010 21:00 - 23:00
Kajian umum Kitab Aqidah Washitiyah (pekan ke- 2 dan ke- 4)

31.07.2010 05:30 - 07:00
Kajian Kitab Ibthaaluttandiid Syarh Kitabut Tauhid ( Dua Pekan Sekali sesi ke-1 )

Yang Online
Stats

Copyright © 2009 Yayasan An Najiyah Al Islamiyah.
All Rights Reserved.

Designed by JB Joomla 1.5 Templates.