• Tentang Kami
  • Visi & Misi
  • Tanya Ustadz
    • Form Pertanyaan
  • Hubungi Kami
  • Kajian Bandung
  • Buletin Annajiyah
  • Pena Santri
Home Buletin Annajiyah Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

PostDateIconThursday, 03 December 2009 14:49 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF Print E-mail

 

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Imam Al Bukhari Rahimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ )يَعْنِي الْعَشْرُ(، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, (yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah).” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.”

Imam Ahmad Rahimahullah juga telah meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرُ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ

“Tidak ada hari yang paling agung dan paling dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya dari pada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah saat itu tahlil, takbir dan tahmid.”

Macam-Macam Amalan yang Disyariatkan

1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah

Amal ini adalah yang paling utama berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

“Dari umrah ke umrah (berikutnya) adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tidak lain adalah surga.”

2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arafah

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama dan yang dipilih Allah Ta’ala untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi (yang artinya):

“Puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku.”

Imam Al Bukhari Rahimahullah dan Imam Muslim Rahimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya):

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka (sejauh perjalanan) tujuh puluh tahun.”

Imam Muslim Rahimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةٍ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Berpuasa pada hari Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelumnya dan sesudahnya.”

3. Takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“… Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …” (QS. Al Hajj: 28)

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma (yang artinya):

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Imam Al Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir. Lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya.

Ishaq Rahimahullah meriwayatkan dari fuqaha tabi’in bahwa pada hari-hari ini mereka mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan (yang haq) selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah.”

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid, dan lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Al Baqarah: 185)

Tidak diperbolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul dalam suatu majelis dan mengucapkannya dalam satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para salaf. Yang sesuai sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Diperbolehkan berdzikir dengan dzikir yang mudah-mudah seperti takbir, tasbih, dan dzikir lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa, sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat

Maksiat adalah penyebab jauh dan terusirnya hamba dari Allah Ta’ala sedangkan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah Ta’ala kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

5. Banyak beramal shalih berupa ibadah sunnah seperti shalat, shadaqah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahyi munkar, dan lain sebagainya

Amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama, bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah Ta’ala daripada amal ibadah pada hari lainnya, meskipun merupakan amal ibadah yang utama. Bahkan sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang sangat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali lagi harta dan jiwanya (tetap yang lebih utama).

6. Berqurban pada hari raya ‘Idul Adh-ha dan hari-hari tasyriq

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim Alaihis Salam yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung.

7. Melaksanakan shalat ‘Idul Adh-ha dan mendengarkan khutbahnya

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan, janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti bermain nyanyi-nyanyian dan musik, berjudi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal ini akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.

Selain itu hendaklah setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah Ta’ala, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan, memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah Ta’ala agar mendapat ridha-Nya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

Al Ustadz Abu Ahmad Taufiq Syamsu Sadikin, S.T.

(Disusun dari berbagai makalah dengan sumber utama dari karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Jibrin)

Dinukil dari buletin annajiyah Edisi 03 Bulan Dzulhijjah Tahun I 1430 H

 

 


Last Updated (Thursday, 03 December 2009 15:22)

 
Main Menu
  • Home
  • Visi & Misi
  • Donasi Dakwah
  • Sejarah Ma'had
  • Artikel
  • Info
  • Forum
  • Hubungi Kami
  • Buku Tamu
Program Pendidikan
  • Madrasah Ibtidaiyah (MI plus)
  • Raudhatul Athfal (RA)
  • MTs Boarding School
Kelembagaan
  • Divisi Pendidikan
  • Divisi Sosial & Dakwah
  • Divisi Usaha
  • Radio Annajiyah FM
Media Dakwah
  • Kumpulan Kajian
  • Download Kajian
Radio Sunnah

Player terpisah

Kajian Bandung
July 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
Kajian Berikutnya

30.07.2010 16:30 - 18:00
Kajian Aqidah Kitab Syarh Tsalatsatul Ushul

30.07.2010 19:30 - 21:00
Kajian umum Kitab Alfiyah Imam Malik

30.07.2010 20:00 - 21:00
Kajian Umum Kitab Mutiara Faidah Kitabut Tauhid ( pekan kedua dan keempat )

30.07.2010 21:00 - 23:00
Kajian umum Kitab Aqidah Washitiyah (pekan ke- 2 dan ke- 4)

31.07.2010 05:30 - 07:00
Kajian Kitab Ibthaaluttandiid Syarh Kitabut Tauhid ( Dua Pekan Sekali sesi ke-1 )

Yang Online
Stats

Copyright © 2009 Yayasan An Najiyah Al Islamiyah.
All Rights Reserved.

Designed by JB Joomla 1.5 Templates.